Aku Bisa (Tentang Sebab dan Akibat)

Posted by Halim Firmansyah | Posted in | Posted on 02.25

Reaksi: 

0

Tuhan...
Seberapapun kuatnya diriku, aku tetap dalam genggaman kekuasaan-Mu.
Aku hanya berusaha...
Aku bisa bukan karena kekuatanku,
Aku bisa bukan pula karena kepintaranku,
Aku bisa bukan karena aku ini hamba yang hebat...

Semua itu karena Kau telah memudahkan jalanku, namun seringkali tanpa sadar aku merasa bahwa aku bisa. Yang artinya...ketika itu aku telah melupakan-Mu, melupakan segala pertolongan-Mu.

Engkau tempatkan sebuah akibat setelah adanya sebab. Sungguh sebuah perintah yang halus bagi diriku untuk terus berusaha, dan semua itu kembali lagi...
Bahwa Seberapapun kuatnya diriku, aku tetap dalam genggaman kekuasaan-Mu.
Engkau Maha Kuasa menimbulkan sebab tanpa diiringi akibat seperti halnya ketika Nabi Ibrahim As yang dibakar oleh kaum quraisy, namun Engkau justru mendinginkan tubuhnya.
Engkau juga Maha Kuasa mendatangkan akibat tanpa adanya sebab seperti halnya Ibunda Maryam yang mengandung tanpa sebab disetubuhi oleh siapapun.

Maka sungguh...
Tanpa kekuasaan-Mu,
tanpa keagungan-Mu...
"Aku ini tidak bisa berbuat apa-apa"

Aku hanyalah setetes air, dan jika di hadapan Matahari...bisa apa aku.? Apa yg pantas kubanggakan.? Apa yang pantas disombongkan dari setetes air tersebut melainkan yang ada hanyalah kebinasaan. Hilang tanpa bekas.
Lantas masihkah aku pantas berkata "Aku Bisa"

Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Posted by Halim Firmansyah | Posted in | Posted on 02.10

Reaksi: 

0

Maksud dari kalimat "Manusia yang manusiawi" adalah menjadi manusia yang baik dan benar, serta manusia yang benar dan baik. 
Perlu kita ketahui bahwasannya suatu hal yang benar belum tentu sudah baik, pun begitu sebaliknya sesuatu yang baik juga belum tentu sudah benar. 

dunia hati

Perhatikan cuplikan percakapan berikut:
Si A: (berjalan dari arah utara)
Si B: "Pagi mas, dari mana?"
Si A: "Dari utara"
Si B: "Oh, mau kemana atuh mas.? :) "
Si A: "Ya mau ke selatan lah"

Benar? Memang jawabannya benar. Baik? Sudah barang tentu tidak baik sebab Si B yang hanya sekedar ingin basa basi menyapa agar terlihat lebih harmonis akan terluka perasaannya. 

Contoh lagi perhatikan peristiwa berikut:
Si A mempunyai tetangga yang bisa dikatakan lebih miskin dari dirinya, dan Si A ingin sekali bersedekah pisang goreng (sebab saat itu istri Si A kebeteulan baru saja menggoreng pisang). Namun cara Si A bersedekah itu dilemparkan tepat di depan si miskin. Kita semua tahu bahwa bersedekah itu suatu hal yang sangat baik, namun jika caranya seperti itu sudah pasti tidak benar.

Nah, dari kedua cerita tersebut diatas sudah bisa kita simpulkan bahwa sesuatu yang benar itu belum tentu sudah baik, pun begitu sebaliknya. Jika kita bisa menyatukan keduanya, benar dan baik serta baik dan benar maka saat itulah kita telah menjadi manusia dengan jiwa yang fitrah (Fitri). Jadi, makna sebenarnya dari kata fitri adalah jiwa yang baik dan benar serta benar dan baik, saat itulah kita juga telah menjadi manusia yang manusiawi. Dari sini mungkin anda akan teringat sesuatu yang seringkali kita rayakan bersama-sama yaitu Idul Fitri. Bersilaturrahmi dan saling memaafkan adalah salah satu bentuk sifat manusiawi pada diri manusia. 

Jadi, mari kita semua selalu berbuat baik kepada sesama dan lakukanlah perbuatan baik tersebut dengan benar.

Mengenal angan-angan

Posted by Halim Firmansyah | Posted in , , | Posted on 10.53

Reaksi: 

0

"Melanturnya angan-angan ialah menginginkan hidup untuk waktu yang panjang, dengan memastikan. sedangkan pendeknya angan-angan yaitu tidak memastikan dalam berangan-angan itu, misalnya : mengikatnya dengan istitsnaa (Insya ALLAH, dengan kehendak dan ilmu Allah SWT) dalam menuturkannya, atau dengan syarat baik dalam menginginkannya".

Dengan demikian, bila kita menyebut-nyebut hidup kita, umpamanya : "aku masih akan hidup sesudah tarikan nafas yang kedua, atau jam yang kedua, atau hari yang kedua", dengan memastikan, maka kita dinamakan orang yang melantur angan-angannya. hal ini merupakan makshiyat, karena yang demikian berarti memastikan perkara yang ghaib.

Jika kita membuat qayyid (mengikat) angan-angan itu dengan kehendak Allah SWT dan ilmu-NYA, lalu kita berkata : "aku akan hidup insyaAllah", berarti kita keluar dari hukum angan-angan dan kita bisa di sifati orang yang mneninggalkan angan-angan.

Begitu pula jika kita menginginkan hidup hingga waktu yang kedua secara memastikan, maka kita diebut orang yang panjang angan-angan. Tetapi, kalau kita membuat qayyid terhadap keinginginan kita itu dengan syarat yang baik, maka kita keluar dari hukum angan-angan dan kita disebut orang yang pendek angan-angannya, karena kita tidak memastikan dalam keinginan kita.

Karena itu lah, mari kita tinggalkan memastikan dalam menyebut kekekalan dan menginginkannya. Yang dimaksud "menyebut" adalah ingatnya hati, yakni memantapkan menetapkan pada hati untuk meninggalkan perbuatan memastikan itu. coba kita pahami keterangan di atas, mudah-mudahan petunjuk (insyaAllah).

Angan-angan itu ada dua macam : angan-angan umum dan angan-angan khusus. angan-angan umum yaitu menginginkan hidup terus untuk mengumpulkan dunia dan bersenang-senang dengannya. ini adalah makshiyat yang murni, dan lawannya adalah pendeknya angan-angan.
Allah SWT telah berfirman yang artinya :
"Biarkanlah mereka itu makan dan bersenang-senang serta di sibukkan oleh angan-angan mereka, maka mereka bakal mengetahui akibat perbuatan mereka".
Sedangkan angan-angan khusus yaitu menginginkan terus hidup untuk menyempurnakan amal yang baik. angan-angan ini mengandung hal yang mngkhawatirkan, yakni sesuatu yang tidak diyakini kebaikannya. sebab, kadang-kadang seseorang dalam melakukan kebaikan atau menyempurnakannya itu tidak ada bagusnya, karena terjerumus ke dalam ujub atau riyaa atau afat lain, di mana kebaikan yang di lakukan tidak seimbang dengan afatnya. jadi kalau begitu, apabila seseorang mulai melakukan shalat, puasa atau lainnya, maka ia tidak memastikan bahwa ia bakal dapat menyemournakannya. sebab, kesempurnaan itu merupakan perkara yang samar. juga tidak boleh bermaksud menyempurnakannya dengan memastikan sebab boleh jadi hal itu tidak ada kebaikannya bagi orang tersebut, sebaiknya ia harus